HUKUM BERTANYA TENTANG DAGING YANG DIBELI DI PASAR

Tinggalkan komentar

Pertanyaan ke-6312: Apa hukum bertanya tentang daging yang dibeli dari pasar Halab dan Damaskus?

Apa hukum orang yang bertanya tentang daging yang diperoleh dari pasar Halab dan Damaskus yang didiami oleh ahlus sunnah, tetapi banyak tersebar kemurtadan. Apakah kita menahan diri dari makan daging sampai kita mengetahui secara yakin orang yang menyembelih atau dibangun di atas dasar bahwa ini termasuk negeri Islam dan bukan wilayah kekuasaan Islam yaitu banyak kaum muslimin yang mendiaminya? Apa pendapat Anda?

Bagaimana pendapat para ulama yang disertai dalil-dalil?

Berdasarkan apa yang saya dengar dari Syaikh Sulaiman Al-‘Ulwan ketika ditanya tentang masalah ini, beliau menjawab: Ini bukan termasuk masalah din, wallahu a’lam.

Berilah kami fatwa dengan menjelaskan dalil-dalilnya.

Penanya: Koresponden Al-Mimbar

Jawab:

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam. Sholawat dan salam semoga tercurah pada nabi yang mulia, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Ketika kaum muslimin adalah mayoritas penduduk suatu negeri dan orang-orang kafir minoritas, maka dihukumi negeri ini dengan keislamannya dan dimakan sembelihannya tanpa bertanya siapa yang menyembelih karena minoritas tidak ada hukum baginya. Karena sembelihan syar’i berdasarkan mayoritas, maka boleh memakan sembelihan tanpa bertanya, berdasarkan hukum asal.

Dalil tentang masalah itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhori dalam shohihnya:

Bahwa suatu kaum datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam lalu mereka berkata: Sesungguhnya suatu kaum datang kepada kami dengan membawa daging yang kami tidak mengetahui apakah mereka menyebut nama Allah ketika menyembelihnya atau tidak? Maka beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَمُوا اللهَ عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوْا

Sebutlah nama Allah atasnya dan makanlah kalian!

Para ulama berkata: Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa perbuatan dibawa pada keadaan sah sampai ada dalil akan fasadnya (kerusakannya).

Adapun ketika penyandaran pada orang-orang kafir itu besar nilainya, mendekati 1/3 atau kurang lebih maka menjadi negeri yang terkumpul antara kaum muslimin dan orang-orang kafir. Ketika itu harus mengambil kehati-hatian yang menjamin seorang muslim tidak makan dari sembelihan orang-orang kafir.

Jika mayoritas di suatu negeri adalah tidak ada sembelihan syar’i atau mencapai jumlah yang menuntut keraguan akan kesahannya maka wajib menahan diri dari memakan sampai bisa dipastikan adanya sembelihan syar’i dan terpenuhi syarat-syaratnya.

Para ulama bersepakat bahwa daging tidak halal kecuali dengan disembelih. Apabila terdapat keraguan akan syar’i tidaknya penyembelihan maka daging tetap pada hukum asal haram sampai diyakini kehalalannya. Seperti binatang buruan yang diragukan sebab kematiannya maka haram memakannya sebelum dipastikan penyembelihannya, berdasarkan hadits ‘Adi bin Hatim rodhiallahu ‘anhu, berkata: Aku bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: … Aku melepas anjingku, lalu aku dapati ada anjing lain bersamanya. Beliau bersabda: Janganlah engkau makan karena engkau hanya mengucapkan basmalah ketika melepas anjingmu dan engkau tidak mengucapkan basmalah pada anjing yang lain. (HR. Bukhori)

Ibnul Qoyyim berkata: Ketika hukum asal dalam sembelihan adalah haram dan dia ragu apakah didapati syarat yang menghalalkannya atau tidak maka binatang buruan itu tetap pada hukum asalnya yaitu haram. (I’lamul Muwaqqi’in 1/340)

Ibnu Qudamah berkata: Jika tercampur saudara perempuannya dengan perempuan ajnabiyah (asing/bukan mahrom) atau bangkai dengan sembelihan, maka kami haramkan bangkai dengan sebab kematiannya dan yang lain dengan sebab kesamarannya. Kaum berkata: Hewan sembelihan adalah halal, tetapi wajib menahan diri darinya. (Roudhotun Nazhir)

Ibnu Qudamah berkata juga: Kehalalan itu terhenti di atas syarat sembelihan orang yang layak menyembelih atau hewan buruannya yang tercapai sembelihan dengannya. (Al-Mughni 21/305)

Karena ini kami mengatakan: Apabila negeri itu tercampur di dalamnya kaum muslimin dan orang-orang kafir, kaum muslimin tidak sampai mayoritas maka selayaknya bagi seorang muslim untuk mengetahui siapa sebenarnya yang menyembelih di negeri itu. Jika mayoritas mereka adalah kaum muslimin maka dimakan dagingnya tanpa bertanya. Jika mayoritas mereka adalah orang-orang kafir maka menahan diri dari memakan darinya karena pengambilan dasar hukum berdasarkan mayoritas, minoritas tidak ada hukum baginya sebagaimana telah kami jelaskan.

Memungkinkan juga untuk disandarkan pada pembagian negeri dimana dibedakan daerah dan suku yang ditinggali oleh kaum muslimin, lalu dia membeli daging darinya, bukan yang lain.

Wallahu a’lam.

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyah:

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi hafizhohullah

 

Diterjemahkan oleh: Abu Hamzah hafizhohullah

Kamis, 17 Rojab 1433 H

Iklan

HUKUM BERDAGANG DENGAN KELOMPOK KAFIR

Tinggalkan komentar

Pertanyaan ke-6115: Apa hukum bermu’amalah dalam perdagangan dan manajemen dengan kelompok kafir?

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kepada Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi, semoga Allah memberikan barokah pada usaha Anda. Saya memohon kepada Allah agar memberikan barokah pada Anda dan pekerjaan Anda.

Syaikh kami yang mulia, apa hukum bermu’amalah secara manajemen dengan kelompok kafir? Kami mengharapkan jawaban dari Anda secara rinci tentang masalah nazilah dalam bermu’amalah dengan kelompok kafir.

Kami mengharapkan Anda memberikan jawaban segera, karena mempertimbangkan pentingnya perkara ini di negeri Anda tercinta, Libia karena perkara ini dilakukan oleh bukan ahlinya.

Semoga Allah memberikan barokah kepada engkau dan syaikh-syaikh di mimbar tauhid wal jihad yang telah menerangi jalan untuk kami.

Penanya: Abu Sulaiman Al-Libi

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam.

Semoga Allah mencurahkan sholawat pada nabi-Nya yang mulia,

Semua keluarga, dan para sahabatnya.

Wa ba’du:

Telah tetap dalam sunnah disyari’atkannya muamalah dengan orang-orang kafir dalam masalah jual beli dan muamalah-muamalah keduniaan yang tidak mengandung unsur membantu memerangi kaum muslimin atau mendatangkan bahaya pada mereka.

Dalil-dalilnya sebagaimana berikut:

1. Abdurrohman bin Abi Bakar rodhiallahu ‘anhuma berkata: Kami bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datang orang musyrik yang kusut rambutnya lagi tinggi dengan membawa kambing yang dia giring. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dijual atau diberikan?” Dia menjawab: “Tidak, Dijual.” Maka beliau membeli darinya seekor kambing. (HR. Bukhori)

2. Dari ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha, berkata: Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menunda pembayaran dan menggadaikan baju besi beliau padanya. (HR. Bukhori)

3. Dari Ibnu Abbas, berkata: Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa oleh kesusahan. Hal itu sampai kepada Ali rodhiallahu ‘anhu sehingga dia keluar mencari pekerjaan untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dia kirim pada Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ali mendatangi kebun milik seorang laki-laki Yahudi. Ali mengairi sebanyak 17 timba air untuk orang tersebut. Tiap timba dinilai satu buah kurma. Maka orang Yahudi itu membebaskan Ali rodhiallahu ‘anhu untuk memilih 17 kurma ajwah dari kurmanya. Lalu Ali membawanya kepada Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro)

4. Dari ‘Aisyah rodhiallahu ‘anha, istri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, berkata: Rosulullah dan Abu Bakar mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani Ad-Dail penunjuk jalan yang cakap, sementara laki-laki itu ada di atas din orang-orang kafir Quraisy dengan menyerahkan padanya dua kendaraannya dan menjanjikan (penyerahan) dua kendaraannya padanya di gua Tsur setelah 3 malam pada pagi hari ke-3. (HR. Bukhori)

5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: Kemudian sesungguhnya seorang laki-laki kalau safar ke negeri harb (yang diperangi) untuk membeli sesuatu darinya, hukumnya boleh menurut kami, sebagaimana hadits tentang perdagangan Abu Bakar rodhiallahu ‘anhu pada masa hidupnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ke negeri Syam, padahal Syam adalah negeri harb. (Iqtidhoush Shirotil Mustaqim 2/15)

Nash-nash ini menjadi dalil bahwa tidak ada dosa dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir dalam urusan perdagangan dan muamalah-muamalah lain yang tidak ada kaitannya dengan perang.

Imam Bukhori membuat suatu bab, beliau berkata: (Bab: Jual beli dengan orang-orang musyrik dan ahlul harb (orang-orang yang diperangi))

Yang menjadi sebab (dibolehkannya) hal itu adalah adanya saling keterikatan kemaslahatan dunia dan tukar-menukar manfaat perdagangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk semua negeri pada apa yang dimiliki selain mereka.

Adapun perkara-perkara kemiliteran, maka tidak boleh bermuamalah dalam perkara tersebut dengan orang-orang yang diperangi, karena muamalah apa pun dengan mereka dalam masalah kemiliteran mengandung unsur membantu dan menguatkan mereka dan ini adalah perkara yang tidak boleh bagi seorang muslim memiliki peran di dalamnya.

Ibnu Baththol rohimahullah berkata: Bermuamalah dengan orang-orang kafir hukumnya boleh, kecuali menjual sesuatu yang bisa membantu orang-orang yang memerangi kaum muslimin.

Karena ini, para ulama rohimahumullah menetapkan disyari’atkannya membeli dari negeri kufur, membawa barang dagangan kepadanya, dan mengecualikan darinya senjata dan apa saja yang sejalan dengannya yaitu bekal dan persenjataan.

As-Sarkhosi rohimahullah berkata: Tidak dihalangi para pedagang untuk masuk ke negeri yang diperangi dengan membawa barang-barang dagangan selain kuda dan senjata karena dengan itu mereka menjadi kuat untuk memerangi kaum muslimin. Mereka melarang membawa senjata pada mereka dan demikian juga besi, karena besi bahan dasar senjata. Allah ta’ala berfirman:

وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat… (Al-Hadid: 25). (Al-Mabsuth, As-Sarkhosi 10/151)

Al-Kasani rohimahullah berkata: Tidak masalah membawa pakaian, perhiasan, makanan, dan barang-barang yang serupa kepada mereka, karena tidak ada makna memberi bekal dan bantuan. Atas dasar itu, berlaku kebiasaan dari para pedagang seluruh negeri, mereka masuk ke negeri yang diperangi untuk berdagang tanpa menampakkan penolakan dan pengingkaran pada mereka. (Badai’ush Shona’i’ 15/288)

Hukum ini tidak terbatas pada orang-orang yang berperang dengan kaum muslimin, tapi mencakup juga orang-orang kafir yang sedang dalam perjanjian damai sebagaimana As-Sarkhosi rohimahullah berkata: Tidak dihalangi orang-orang yang berdagang dari membawa barang-barang dagangan kepada mereka kecuali kuda, senjata, dan besi karena mereka adalah orang-orang yang diperangi, meskipun mereka mengadakan perjanjian damai. Tidakkah engkau perhatikan setelah berlalu waktu mereka akan kembali memerangi kaum muslimin. (Al-Mabsuth, As-Sarkhosi 10/151)

Demikian juga apabila seorang prajurit masuk ke negeri Islam maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menjual senjata atau perbekalan perang padanya.

Al-Kasani rohimahullah berkata: Seorang prajurit apabila masuk negeri Islam maka tidak boleh baginya untuk membeli senjata. Kalaupun sudah membeli, tidak boleh baginya untuk memasukkannya ke negeri perang, karena alasan yang telah kami jelaskan. (Bada’iush Shona’i’ 15/288)

Ibnu ‘Abdilbar rohimahullah berkata: Mereka melarang –orang-orang yang diperangi– membeli segala sesuatu yang bisa menjadi kekuatan bagi mereka untuk melawan kaum muslimin yaitu senjata, kuda perang, pelana kuda, minyak tanah, besi yang menjadi bahan senjata, dan segala sesuatu yang menjadi bekal perang. (Al-Kafi fi fiqhi ahlil madinah (1/481)

Al-Haddad rohimahullah dalam Al-Jauhiroh An-Niroh berkata: Tidak selayaknya menjual senjata kepada orang-orang yang berperang karena hal itu menguatkan mereka untuk memerangi kita karena senjata tidak cocok kecuali untuk berperang. Demikian juga besi, karena besi bahan dasar senjata. Demikian juga kuda, bagal (peranakan kuda dan keledai), dan keledai karena hal itu menguatkan mereka untuk memerangi kita. Demikian juga tidak dibeli dari mereka budaknya kafir dzimmi karena dia termasuk sesuatu yang diminta bantuan dengan mereka untuk berperang. Kalau seorang prajurit masuk negeri kita, lalu membeli senjata maka dia dihalangi darinya dan tidak mungkin baginya untuk memasukkannya kepada mereka. (Al-Jauhiroh An-Niroh 6/85)

Ini adalah hukum bermuamalah dengan orang-orang yang berperang dan hukum bermuamalah dengan kelompok kafir dan yang diperangi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: Adapun muamalah dengan Tartar maka boleh padanya apa saja yang boleh pada orang-orang seperti mereka dan haram padanya apa saja yang haram muamalah dengan orang-orang seperti mereka. Seseorang boleh membeli ternak, kuda, dll sebagaimana dia membeli ternak dan kuda dari orang Turkmenistan, Arab, dan Kurdi. Boleh untuk menjual pada mereka makanan, pakaian, dan yang semacamnya sebagaimana boleh menjualnya pada orang-orang seperti mereka. Adapun jika dia menjual pada mereka dan selain mereka apa saja yang bisa membantu mereka pada hal-hal yang haram, seperti kuda dan senjata bagi orang yang dengannya melakukan peperangan yang haram, maka ini tidak boleh. Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

Tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran! (Al-Maidah: 2)

Dalam As-Sunan, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam: (Bahwa beliau melaknat 10 pihak tentang khomer: Beliau melaknat khomer, pemerasnya, pengolahnya, pembawanya, yang minta dibawakan padanya, penjualnya, pembelinya, yang menuangkannya, peminumnya, dan yang makan harganya.) Beliau melaknat orang yang memeras padahal dia hanya memeras anggur menjadi sari buah. Dan sari buah adalah halal yang bisa dibuat cuka anggur, sirup, dll.

Jika harta yang ada pada mereka atau selain mereka diketahui hasil mereka merampas dari orang yang terpelihara (darah, harta, dan kehormatannya, pent.) maka tidak boleh membelinya untuk pemilikinya. Tetapi jika engkau membelinya atas dasar menyelamatkannya untuk dikelola secara syar’i maka jika memungkinkan dikembalikan kepada pemiliknya. Jika tidak, dikelola untuk kemaslahatan kaum muslimin, ini hukumnya boleh. Jika diketahui dalam harta mereka ada sesuatu yang haram yang engkau tidak mengetahui barangnya, maka tidak diharamkan muamalah dengan mereka sebagaimana jika diketahui bahwa di pasar ada barang hasil rampasan atau pencurian dan tidak diketahui barangnya. (Majmu’ Al-Fatawa 29/275)

Kaidah umum untuk masalah ini adalah semua jenis muamalah dengan kelompok kafir yang di dalamnya terdapat unsur membantu dan menguatkannya maka tidak disyari’atkan. Sesungguhnya para ulama hanya menetapkan larangan senjata dan perkara-perkara kemiliteran, tidak yang lain, karena secara umum hal itu merupakan bentuk bantuan dan pertolongan.

Apa yang dijelaskan tentang perdagangan, juga berlaku untuk manajemen.

Wallahu a’lam.

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyah:

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi hafizhohullah

Diterjemah oleh: Abu Hamzah hafizhohullah

Kamis, 17 Rojab 1433 H

APA HUKUM BEKERJA PADA PERUSAHAAN KEAMANAN DI NEGERI HAROMAIN?

Tinggalkan komentar

Pertanyaan ke-5818: Apa hukum bekerja pada perusahaan-perusahaan keamanan di negeri Haromain?

Semoga Allah memberikan balasan pada para ulama yang mulia yang tegak di atas dakwah yang jelas ini dengan balasan yang lebih baik.

Saya mengharapkan jawaban dari pertanyaan berikut dalam waktu secepat mungkin. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik.

Seseorang bekerja di perusahaan keamanan informatika (teknologi informasi) di negeri Haromain. Misi perusahaan adalah menerima proyek-proyek yang bersifat teknis dan teknologi keamanan dari pemerintah, seperti menjaga istana kerajaan, penjara, dan tempat-tempat suci. Termasuk dalam hal itu menyediakan fasilitas peralatan terbaru untuk melindunginya dari dalam dan luar dan menyediakan cara paling mudah bagi administrator untuk memantau dan mengendalikannya setelah berakhirnya kontrak. Apakah boleh bekerja di perusahaan ini? Apa hukum memutus hubungan dengan orang ini karena marah untuk Allah dan mudah-mudahan dia kembali kepada petunjuk? Apa hukum gajinya, atas dasar bahwa kadang-kadang dia tidak bekerja di semua proyek, sebatas kebutuhan perusahaan menyempurnakan distribusi tugas pada para pekerja.

Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik pada kalian dan memberikan manfaat dengan kalian pada Islam dan kaum muslimin.

Penanya: Nashiruddin 2

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah pada nabi yang mulia, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba’du:

Perusahaan ini memiliki dua keadaan:

Keadaan pertama: perusahaan ini murni komersial, dimana dia bermuamalah dengan pemerintah dan yang lain, yaitu dia bukan suatu perusahaan milik pemerintah.

Pada waktu yang sama, pekerjaan-pekerjaannya mencakup pemberian layanan-layanan dan tugas-tugas lain yang disyari’atkan dan pekerjaannya bukan terbatas pada bagian yang terlarang ini.

Dalam keadaan ini boleh bekerja pada perusahaan tersebut dengan syarat pekerja tidak mengurusi bagian yang terlarang dan dengan syarat tidak mudah baginya bekerja pada yang lain.

Adapun ketika mudah baginya untuk bekerja pada perusahaan lain maka wajib baginya mengusahakan hal itu dan meninggalkan pekerjaan ini.

Karena bekerja pada perusahaan ini kadang-kadang masuk dalam kategori membantunya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang haram dan kadang-kadang di dalamnya ada pengakuan untuknya akan hal itu.

Setiap orang yang pekerjaannya terdapat hal yang haram maka tidak boleh membantunya dengan bantuan apa pun karena Allah ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿٢﴾

(2) Tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran! Bertakwalah kalian kepada Allah! Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Al-Maidah)

Dan karena mengingkarinya tidak terealisasikan kecuali dengan tidak bekerja padanya.

Keadaan kedua: perusahaan ini adalah milik pemerintah atau layanannya terbatas pada bidang yang terlarang ini. Maka dalam keadaan ini tidak disyari’atkan bekerja di dalamnya secara mutlak karena di dalamnya terdapat perkara yang bersentuhan langsung dengan perkara haram.

Tidak ada perselisihan akan tidak bolehnya seseorang mempekerjakan dirinya kepada orang yang memanfaatkannya dalam pekerjaan yang haram sebagaimana tidak boleh baginya untuk menjual apa saja yang bisa dipakai membantu perkara yang haram.

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata: Menjual perasan anggur pada orang yang dia yakini akan menjadikannya sebagai khomer adalah haram. Seperti ini hukum segala sesuatu yang dimaksudkan untuk yang haram seperti menjual senjata pada musuh, perampok, atau menjual dalam fitnah dan menjual budak perempuan untuk dijadikan penyanyi, menyewakannya untuk itu, atau menyewakan rumahnya untuk dipakai menjual khomer atau untuk dijadikan sebagai gereja dan yang semacam itu. Maka ini haram dan akadnya batal. (Al-Mughni 4/154)

Adapun cara bermu’amalah dengan orang ini, jika pekerjaannya adalah haram maka harus memilih cara yang lebih dekat membawa pengaruh padanya. Jika memutus hubungan dengannya adalah lebih maksimal dalam memberikan pengaruh maka diputus.

Jika berbuat baik dan tetap bergaul dengannya lebih maksimal dalam memberikan pengaruh padanya maka tetaplah bermu’amalah dengan keduanya.

Wallahu a’lam.

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyah:

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi hafizhohullah

Diterjemah oleh: Abu Hamzah hafizhohullah

Rabu, 16 Rojab 1433 H

APA TANDA-TANDA GHULUW DALAM AL-WALA’ WAL BARO’?

Tinggalkan komentar

Pertanyaan ke-6314: Apa tanda-tanda ghuluw dalam al-wala’ wal baro’?

Wahai masyayikh, semoga Allah menjaga kalian. Apa tanda-tanda ghuluw dalam al-wala’ wal baro’ tentang memutus hubungan dalam Islam –tentang tidak sholat di belakang muslim–, tentang takfir dengan semata-mata muamalah dan duduk-duduk dengan orang-orang kafir.

Kami mengharapkan penjelasan karena kami sehari-hari bergesekan dengan orang-orang murtad dan sipir penjara.

Penanya: Koresponden Mimbar Tauhid Wal Jihad

Jawab:

Segala puji milik Allah, Robb seluruh alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah pada Nabi yang mulia, semua keluarga, dan para sahabatnya.

Apabila hajer (memutus hubungan / memboikot) itu termasuk yang disyari’atkan maka termasuk hajer itu adalah tidak memberi salam, karena hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya hajer telah mengkhususkan keumuman perintah untuk menyebarkan salam sebagaimana itu adalah pendapat jumhur ulama.

Imam Bukhori rohimahullah dalam kitab shohihnya berkata: (Bab tentang orang yang tidak mengucapkan salam pada pelaku dosa dan tidak menjawab salamnya sampai nampak jelas tobatnya dan sampai kapan nampak jelas tobatnya pelaku maksiat.)

Abdullah bin ‘Amer berkata: Janganlah kalian mengucapkan salam pada orang-orang yang minum khomer.

Bercerita kepada kami Ibnu Bukair, bercerita kepada kami Al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Abdurrahman bin Abdillah bahwa Abdullah bin Ka’ab berkata: Saya mendengar Ka’ab bin Malik bercerita ketika dia tidak ikut perang Tabuk: Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang berbicara dengan kami. Aku datang pada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam pada beliau. Aku berkata dalam hati: Apakah beliau menggerakkan dua bibirnya untuk menjawab salam atau tidak. Sampai sempurna 50 malam, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan tentang penerimaan tobat dari Allah untuk kami ketika selesai sholat subuh. (Shohih Bukhori 8/70).

Masalah tentang menghajer muslim dengan tidak mengucapkan salam padanya atau tidak sholat di belakangnya telah dirinci oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. Beliau berkata: (Hajer itu untuk mendidik disiplin yaitu menghajer orang yang menampakkan kemungkaran-kemungkaran. Dia dihajer sampai dia bertobat darinya sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin menghajer tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobatnya) sampai Allah menurunkan penerimaan tobat untuk mereka ketika nampak dari mereka perbuatan meninggalkan jihad fardhu ‘ain tanpa ada udzur. Dan beliau tidak menghajer orang yang menampakkan kebaikan meskipun dia adalah orang munafik.

Maka di sini hajer menempati kedudukan ta’zir (memberi sangsi). Ta’zir ditujukan untuk orang yang nampak darinya perbuatan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan sholat dan zakat, bantu membantu dengan perbuatan-perbuatan zholim dan keji, mengajak pada bid’ah-bid’ah yang menyelisihi Al-Qur’an, sunnah, dan ijma’ salafil ummah (orang-orang terdahulu) yang nampak jelas bahwa itu bid’ah. Ini adalah hakikat ucapan ulama salaf dan para imam: Sesungguhnya orang-orang yang mengajak pada bid’ah tidak diterima kesaksian mereka, tidak sholat di belakang mereka, tidak diambil ilmu dari mereka, dan tidak dinikahkan. Ini adalah hukuman bagi mereka sampai mereka berhenti. Karena ini, mereka membedakan antara orang yang mengajak dan yang tidak mengajak, karena orang yang mengajak menampakkan kemungkaran-kemungkaran maka dia berhak untuk mendapatkan hukuman. Berbeda dengan orang yang menyembunyikan. Dia tidak lebih buruk dari orang-orang munafik yang Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menerima zhohir mereka dan menyerahkan apa saja yang mereka sembunyikan kepada Allah meskipun beliau mengetahui keadaan banyak orang dari kalangan mereka.

Supaya dia tahu bahwa wajib berwala’ pada orang mukmin meskipun dia telah menzholimi dan menyakitimu dan wajib memusuhi orang kafir meskipun dia telah memberi dan berbuat baik padamu. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus para rosul dan menurunkan kitab-kitab agar seluruh din itu milik Allah. Karena itu, cinta itu untuk wali-wali-Nya dan benci untuk musuh-musuh-Nya, memuliakan untuk wali-wali-Nya dan menghinakan untuk musuh-musuh-Nya, pahala untuk wali-wali-Nya dan siksa untuk musuh-musuh-Nya. Apabila terkumpul pada diri seseorang kebaikan dan keburukan, perbuatan dosa, taat, maksiat, sunnah, dan bid’ah maka dia berhak mendapatkan wala’ dan pahala sebatas kebaikan yang ada padanya dan berhak mendapatkan permusuhan dan hukuman sebatas keburukan yang ada padanya. Maka terkumpul dalam diri seseorang hal-hal yang mengharuskan dia dimuliakan dan dihinakan. Maka terkumpul padanya dari ini dan ini seperti pencuri miskin, dipotong tangannya karena dia mencuri dan diberi harta dari baitul maal untuk mencukupi kebutuhannya.) Majmu’ Al-Fatawa (28/204) dengan sedikit ringkasan.

Adapun mengkafirkan manusia hanya karena mereka bermuamalah dengan orang-orang kafir atau duduk-duduk dengan mereka maka ini adalah ghuluw dalam takfir karena dia mengkafirkan tanpa ada sebab perkara yang mengkafirkan.

Tentang masalah seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: (Sesungguhnya termasuk aib-aibnya ahlul bid’ah adalah sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain dan termasuk hal-hal yang terpuji dari ahlul ilmi adalah mereka berbuat salah dan tidak dikafirkan.)

Tetapi, jika berkenaan dengan orang-orang yang dipenjara maka muamalah mereka dengan orang-orang kafir yang memenjarakan mereka dan sikap lemah lembut dengan mereka harus sebatas apa yang sesuai dengan kebutuhan dan dibolehkan untuk mereka taqiyyah (pura-pura) dengan memenuhi syarat-syaratnya dan hendaknya mereka tidak memudah-mudahkan dalam masalah itu sehingga tidak menjadi syubhat yang menguasai mereka.

Wallahu a’lam.

Segala puji milik Allah, Robb seluruh alam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyyah:

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi hafizhohullah

Alih bahasa: Abu Hamzah hafizhohullah

Sabtu, 27 Jumadits Tsani 1433 H

APAKAH MAYORITAS PENDUDUK MESIR DIANGGAP KAFIR KARENA IKUT PEMILU LEGISLATIF?

6 Komentar

Pertanyaan ke-6313:

Apakah mayoritas penduduk Mesir dianggap kafir karena mengikuti pemilu legislatif?

Apa hukum orang yang mengatakan: Sesungguhnya mayoritas atau banyak dari penduduk Mesir adalah orang-orang kafir karena mereka mengikuti pemilu legislatif. Mereka kafir dengan sebab itu dan tidak ada udzur dengan kebodohan bagi mereka karena kebodohan itu harus disebabkan lemah dan kebodohan mereka itu bukan disebabkan lemah karena ada kemungkinan bagi mereka untuk menuntut ilmu?

Apa hukum orang yang membid’ahkan orang yang tidak mengkafirkan mayoritas penduduk Mesir? Kami mohon penjelasan rinci dengan dalil-dalil, mudah-mudahan Allah memberikan pahala.

Penanya: Koresponden Mimbar Tauhid Wal Jihad

Jawab:

Segala puji milik Allah, Robb seluruh alam. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang mulia, semua keluarga, dan para sahabatnya.

Ada beberapa perkara yang sepatutnya dijadikan sebagai pelajaran:

1. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu yang berterus terang dengan kebenaran diburu dan dihalangi dari menyampaikan dakwah mereka dan suara mereka tidak sampai kepada masyarakat umum.

2. Sesungguhnya mayoritas para syaikh yang terkenal di kalangan masyarakat luas berfatwa akan bolehnya pemilu dan sebagiannya mengatakan wajib!

3. Sesungguhnya masyarakat umum dikacaukan oleh pasal II dari konstitusi yang menetapkan bahwa syariah adalah sumber utama undang-undang.

4. Sesungguhnya penerapan sistem demokrasi adalah perkara baru bagi kaum muslimin. Banyak dari kalangan mereka tidak tahu bahwa demokrasi membatalkan tauhid atau menyelisihi syari’at Allah.

Perkara-perkara ini semua menjadikan kami mengatakan bahwa masalah haramnya peran serta dalam pemilu dianggap sebagai masalah-masalah khofiyah (samar).

Sungguh telah tetap menurut para ulama bahwa kalangan awam dari kaum muslimin kadang-kadang diudzur karena bodoh terhadap masalah-masalah khofiyah sampai dijelaskan pada mereka dan mereka mengetahui hukum yang tidak mereka ketahui.

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: (Sesungguhnya pada semua tempat dan waktu yang tidak ada kenabian padanya, hukum orang yang samar baginya ajaran-ajaran kenabian, sehingga dia mengingkari apa yang dibawa oleh para nabi, itu tidak menjadi sebuah kesalahan seperti hukum kesalahan yang terjadi di semua tempat dan waktu yang ajaran-ajaran kenabian jelas padanya.)

Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab rohimahullah berkata: (Sesungguhnya orang yang belum tegak hujjah padanya adalah orang yang baru masuk Islam dan orang yang tumbuh dewasa di daerah terpencil atau masalah itu termasuk masalah khofiyah, seperti ash-shorf dan al-‘athaf (sihir perceraian dan pengasih/pelet), maka dia tidak dikafirkan sampai dia mengetahui.)

Maka harus memperhatikan perbedaan keadaan manusia, tempat tinggal, dan zaman mereka ditinjau dari sisi tersebarluasnya ilmu atau kepunahannya.

Harus berhati-hati dan bijaksana dalam masalah-masalah takfir (vonis kafir), khususnya jika perkara itu dikaitkan dengan keumuman (berdasarkan mayoritas) dan memperhatikan tentang terpenuhinya syarat-syarat dan hilangnya mawani’ (hal-hal yang menghalangi takfir)

Barangsiapa yang zhohir keadaannya adalah jujur, sangat ingin mencari kebenaran, dan tidak berpaling dari kebenaran, maka harus engkau carikan alasan-alasan baginya (untuk tidak dikafirkan, pent.) sampai hujjah tegak padanya dan nampak keberpalingannya.

Adapun orang yang berpaling dari kebenaran dan tetap di atas kebathilan maka orang seperti inilah yang dikafirkan dan tidak diudzur sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam An-Nuniyah:

Kufur itu tidak ada kecuali keras kepala dan membantah apa-apa …
yang rosul bawa, karena ucapan si Fulan

Wallahu a’lam.

Segala puji bagi Allah, Robb seluruh alam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyyah:

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi

Alih bahasa: Abu Hamzah hafizhohullah

Rabu, 17 Jumadits Tsani 1433 H

Catatan:

Dengan ini, maka saya, penerjemah rujuk dari anggapan saya sebelumnya bahwa demokrasi adalah termasuk masalah zhohiroh kepada pendapat di atas dengan tinjauan beberapa alasan yang menyebabkan demokrasi termasuk masalah khofiyah. Wallahu a’lam bish-showab.

PERGI JIHAD ATAU MELUNASI HUTANG DI BANK?

Tinggalkan komentar

Pertanyaan ke-5278:

Apakah pergi berjihad atau melunasi hutangnya di bank?

Assalamu’alaimum

Pertanyaan dari al-akh Gholib Al-Azdi dari forum Syumukhul Islam.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh

Mayoritas kami telah mendengarkan rekaman Syaikh Muhammad Al-Mursyidi tentang keutamaan-keutamaan jihad dan karomah-karomah para syuhada’ yang dirilis oleh ikhwah di Al-Malahim.

Pertanyaan:

Salah seorang ikhwan kalian ingin keluar berjihad di jalan Allah, sementara dia punya hutang di bank dan dia memiliki sebidang tanah yang ingin dia jual, sementara jihad di zaman ini adalah fardhu ‘ain.

Saudara kalian bingung, apakah dia melunasi hutang banknya dengan sebidang tanah itu atau dia membangun rumah dengan sebidang tanah itu untuk tempat tinggal anak-anak dan istrinya di dekat rumah orang tuanya karena rumah pertama jauh dan tidak ada seorang pun di sana yang bisa membantunya setelah kepergiannya (dia khawatir terhadap keluarganya) sementara ikhwan-ikhwannya tinggal di sekitar rumah orang tuanya (maksudnya jika terjadi apa-apa, anjing-anjing intelejen itu bisa mengganggu) dan mengambil dari rumah sebagian harta yang dengannya ikhwan-ikhwannya bisa membantu dimana dia akan keluar, insya Allah.

Berikanlah kami solusi, semoga Allah menjaga kalian.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Penanya: Jihad Media Player

Jawab:

Segala puji milik Allah, Robb seluruh alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah pada Muhammad, penghulu para nabi, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Ketahuilah, semoga Allah menjagamu, bahwa keutamaan-keutamaan jihad dan karomah-karomah mujahidin sangat banyak. Kami memohon kepada Allah tabaroka wa ta’ala supaya menolong ikhwan-ikhwan kita mujahidin di Jaziroh Arab dan di seluruh penjuru dunia.

Jika bank tempat dia mengambil hutang menerapkan sistem riba maka wajib bagimu untuk bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla karena secara syar’i bermuamalah dengan bank-bank seperti ini tidak boleh.

Menurut pendapat saya sebaiknya engkau memulai dengan menyelesaikan hutangmu dan kelebihannya engkau pakai sebagai bekal dan keluar ke bumi jihad, jika engkau mendapatkan penunjuk jalan yang amanah dan hendaknya engkau tetap waspada.

Jika engkau mengetahui bahwa daerah yang engkau tuju membutuhkan muqotil (orang yang berperang) maka keluarlah, karena di sebagian tempat mujahidin lebih membutuhkan bantuan harta dan dukungan moril daripada muqotil.

Selayaknya bagi orang yang tidak mampu untuk pergi ke bumi jihad –jika dia termasuk penuntut ilmu–, wajib baginya untuk menyebarluaskan di tengah-tengah manusia aqidah tauhid yang bersih dari kotoran-kotoran syirik dan bid’ah murjiah, menguatkan masalah jihad fisabilillah, dan penegakan hukum syari’at. Adapun jika dia termasuk orang awam maka minimal dia berkeinginan kuat untuk mendoakan kebaikan saudara-saudaranya yang berjihad.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyyah:

Syaikh Khotib Al-Baghdadi

Alih bahasa: Abu Hamzah hafizhohullah

Rabu, 17 Jumadits Tsani 1433 H

APAKAH MENGUCAPKAN KALIMAT TAUHID DAN MELAKUKAN SYI’AR-SYI’AR IBADAH CUKUP MENJADIKAN SESEORANG MUSLIM?

Tinggalkan komentar

Pertanyaan ke-57: Apakah mengucapkan kalimat tauhid dan melaksanakan syi’ar-syi’ar ibadah, keduanya cukup menjadikan seseorang sebagai muslim?

Assalamu’alaikum.

Kalian telah menyebutkan dalam banyak ucapan kalian bahwa kalimat tauhid tidak cukup (diucapkan, pent.), harus diiringi dengan mengamalkannya dalam mengatur kehidupan. Pertanyaan kami tentang orang-orang yang mengucapkan kalimat tauhid dan melaksanakan syi’ar-syi’ar ibadah seperti sholat, puasa, dll, tetapi mereka mengambil aturan hidupnya dari mode, adat, dan tradisi yang menyelisihi syari’at Allah. Apakah kita anggap mereka muslimin atau bukan? Apakah wajib mendoakan rahmat untuk orang-orang yang mati dari kalangan mereka, memberikan zakat pada mereka, dan memperlakukan mereka seperti perlakuan terhadap kaum muslimin atau tidak?

Saya mengharapkan jawaban dalam masalah ini.

Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik pada Anda.

Penanya: Ar-Rohiq Al-Mahtum

Penjawab: Lajnah Syar’iyah di Mimbar Tauhid Wal Jihad

Wa’alaikumus salam wa rohmatullahi wa barokatuh

Saudaraku penanya, semoga Allah menjagamu.

Apa yang engkau sebutkan yaitu perkara-perkara yang banyak dari kaum muslimin terjatuh padanya, tidak lagi menjadi maksiat yang diantaranya ada dosa kecil dan dosa besar –yaitu dosa besar yang tidak mengeluarkan dari millah (Islam)–. Termasuk pokok-pokok aqidah ahlus sunnah wal jamaah adalah tidak mengkafirkan dengan perbuatan-perbuatan maksiat, tapi orang yang terjatuh dalam maksiat-maksiat seperti ini disebut secara lepas sebagai fasik kecil. Maka orang ini adalah fasik, tapi dia masih memiliki bagian dari Islam. Pada hari kiamat dia –jika mati di atas tauhid– berada di bawah rahmat Allah dan kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki, Dia menyiksanya kemudian memasukkannya ke dalam surga. Jika Dia menghendaki, Dia mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga, tanpa siksa. Berbeda dengan orang kafir yang tidak ada baginya kecuali neraka Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya selama-lamanya.

Berdasarkan yang engkau sebutkan bahwa yang ditanyakan tentang mereka adalah mereka mengucapkan syahadat tauhid dan mengamalkan rukun-rukun Islam yang mendasar seperti sholat, zakat, dan puasa, maka mereka ini dihukumi Islam dan tidak boleh mengkafirkan mereka dengan perkara-perkara yang telah disebutkan.

Selama kita menghukumi bahwa mereka tetap ada dalam lingkaran Islam, maka boleh mendoakan rahmat untuk mereka, memberikan zakat pada mereka, dan wajib memperlakukan mereka seperti perlakuan terhadap kaum muslimin. Kita berwala‘ pada mereka sebatas kadar Islam yang ada pada mereka dan membenci mereka sebatas kadar maksiat mereka. Berbeda jika mereka melakukan satu perkara diantara perkara-perkara yang mengkafirkan maka karena perkara itu mereka dihukumi kafir setelah jelas terpenuhi syarat-syarat dan tidak ada penghalang-penghalang pengkafiran.

Adapun ucapan orang yang mengatakan bahwa kalimat tauhid tidak cukup (diucapkan, pent.), wajib diiringi dengan mengamalkannya, jika yang dimaksud adalah merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik dan tandid (menjadikan tandingan untuk Allah) maka ini benar, karena mengucapkan kalimat tauhid dengan tetap ada di atas syirik yang jelas dan tidak berlepas diri darinya, maka ucapannya tidak bermanfaat sedikitpun.

Seperti itu juga, jika yang dimaksud adalah mengucapkannya saja dengan meninggalkan jinsul ‘amal (amalan) secara keseluruhan padahal mampu dia untuk melaksanakannya.

Wallahu a’lam.

Alih bahasa: Abu Hamzah hafizhohullah

Senin, 15 Jumadits Tsani 1433 H

Older Entries

%d blogger menyukai ini: